Langsung ke konten utama

Berakhlak Kepada Khalik dan Makhluk



15/30 (29 Juli 2020)

Islam adalah agama yang mulia dan salah satunya mesti ditunjukkan oleh kemuliaan akhlak pemeluknya.

Islam mengajarkan kepada kita bahwa akhlak mulia tersebut mencangkup akhlak mulia kepada Allah dan kepada makhluk. Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa dua hal ini tidak boleh terpisahkan. 

Maka tidak sepantasnya seorang muslim akhlaknya baik kepada Khalik tetapi buruk kepada sesama makhluk, atau sebaliknya.

Maka bagaimanakah sikap yang benar? Sahabat, yuk kita simak disini:

1. Baik kepada Khalik buruk kepada makhluk

Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa manhaj salafush shalih dalam beragama itu hanya berkisar pada pembenahan akidah. Asal tauhidnya mantap dan tidak terjatuh pada kesyirikan, sudah cukup. Kemudian mereka lalai memperhatikan akhlak kepada sesama. Bahkan mereka tidak berakhlak kepada orang tuanya. Padahal Islam adalah agama paripurna, mencakup dan mengatur segalanya, termasuk akhlak dan tata krama bermuamalah antar sesama.

Imam Ahmad dan yang lainnya menyebutkan sebuah riwayat yang menunjukkan bahwa akhlak kepada makhluk menempati posisi penting dalam kehidupan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ia berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: هِيَ فِي النَّارِ

Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya si fulanah banyak shalatnya, banyak pula sedekah dan puasanya, namun ia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya.’ Maka Nabi bersabda, ‘Ia di Neraka.’” (HR. Ahmad no. 9675 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no.2560)

2. Baik kepada makhluk buruk kepada khalik

Di lain sisi, banyak juga orang yang keliru dan meninggalkan akhlak kepada Allah sebagai Khaliknya. Mereka baik kepada sesama akan tetapi hak Allah mereka lalaikan, mereka tidak bertauhid, meninggalkan shalat, dst. Allah berfirman:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِندَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. At-Taubah: 19)

Ayat ini sebagai bantahan buat orang-orang Qurasy yang tidak mau beriman karena mereka merasa memiliki jasa dan berakhlak kepada manusia. Allah sebutkan bahwa itu tidak sama dengan keimanan kepada Allah. Jangan berbangga dengan amalan kalian tersebut, karena keimanan kepada Allah jauh lebih berharga daripada amalan kalin tersebut.

3.Harus baik kepada Khalik dan Makhluk

Berakhlak kepada Khalik, tunaikan hak-Nya, beriman dan bertakwa serta beribadah kepada-Nya. Kemudian berakhlak pula kepada sesama makhluknya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدً

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70)

Karenanya makna dari kesombongan itu adalah orang yang tidak memiliki akhlak baik kepada Allah maupun kepada manusia. 

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhlak yang mulia, akhlak mulia kepada-Nya dan kepada makhluk-Nya.

Bisa juga kunjungi link Klik disini

Komentar